← back to home

Sejarah ibadah Haji dan Umroh



Photo by tasnim umar

Ibadah Haji dan Umroh merupakan dua ibadah penting dalam Islam yang dilaksanakan di Tanah Suci Makkah. Umroh sering disebut oleh orang-orang sebagai ibadah Haji kecil, karena memang tidak melakukan prosesi yang sama seperti Haji, lebih sedikit dan cepat.

Kedua ibadah ini memiliki landasan sejarah yang erat kaitannya dengan perjalanan para nabi, khususnya Nabi Ibrahim (AS) dan Nabi Muhammad SAW.


1. Awal Mula: Jejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

  • Perintah membangun Ka’bah

    Menurut riwayat, Ka’bah pertama kali dibangun atau dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS dengan bantuan putranya, Nabi Ismail AS. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mendirikan rumah peribadatan tersebut sebagai tempat ibadah yang suci (baitullah). Pembangunan Ka’bah ini menjadi titik tolak terbentuknya pusat ibadah di Makkah.

  • Peristiwa Sa’i antara Shafa dan Marwah

    Salah satu rangkaian rukun Haji dan Umroh adalah Sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Rukun ini terinspirasi dari kisah Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) yang berlari-lari mencari air untuk bayinya, Nabi Ismail, ketika keduanya ditinggalkan di lembah Makkah yang gersang atas perintah Allah. Atas pertolongan Allah, memancarlah air zam-zam yang menandai sumber kehidupan di kawasan Makkah.

  • Awal mula ritual kurban

    Penyembelihan hewan kurban yang menjadi bagian penting dari ibadah Haji berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim yang diuji dengan perintah menyembelih putranya, Ismail. Karena ketaatan keduanya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini kemudian menjadi simbol ketaatan total kepada Allah dan dirayakan setiap Idul Adha.


2. Masa Pra-Islam: Penyelewengan Ajaran Ibrahim

Meski penghuni Makkah mengetahui mengenai ajaran nabi Ibrahim AS, namun mereka tidak mengikuti ajarannya, mereka lebih memilih menjalankan ibadah mereka sendiri dengan menyembah berhala, sedangkan yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS adalah sebagian kecil dan disebut Hanafisme, kakek baginda rosul Nabi Muhammad SAW yakni Abdul Muthalib adalah salah satu yang mengikuti ajaran Hanafisme.

  • Kondisi di Makkah sebelum Islam Pasca Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, masyarakat Makkah secara perlahan menyimpang dari ajaran tauhid. Mereka membawa berhala-berhala dan menempatkannya di sekitar Ka’bah.
  • Penyimpangan ritual Meskipun sebagian masyarakat Arab masih melaksanakan ibadah tawaf dan ziarah ke Ka’bah, praktiknya sudah bercampur dengan kesyirikan. Ka’bah dihias dengan berbagai patung berhala, dan makna sebenarnya dari ibadah ini menjadi terdistorsi, hal ini terlihat dari penggunaan berhala sebagai simbol kesucian dan masing-masing patung berhala memiliki nama yang berbeda seperti Al-Lat, Al-Uzza, Manat, dan lainnya, hal ini mewakili berbagai dewa yang dianggap memiliki kekuasaan untuk masing-masing suku yang ada di wilayah jazirah Arab.

3. Masa Nabi Muhammad SAW: Pemurnian Kembali Ibadah Haji dan Umroh

  • Pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah) Setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul terakhir, beliau membawa kembali ajaran tauhid dan memerangi penyembahan berhala. Puncaknya adalah peristiwa Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriah (630 M), di mana Nabi dan para sahabat memasuki Kota Makkah tanpa pertumpahan darah, lalu membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala.
  • Haji Wada’ (Haji Perpisahan) Pada tahun 10 Hijriah (632 M), Nabi Muhammad SAW melaksanakan Haji Wada’, Haji terakhir beliau. Di sana beliau menyampaikan khutbah yang berisikan pesan-pesan penting bagi umat Islam, termasuk keadilan, persaudaraan, dan persamaan derajat manusia. Rangkaian manasik (tata cara) yang dilakukan Nabi dalam Haji Wada’ inilah yang menjadi panduan utama ibadah Haji bagi kaum Muslimin hingga saat ini.

4. Perkembangan Seiring Waktu

  • Pasca Nabi Muhammad SAW Para sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya melanjutkan tradisi berziarah ke Makkah. Haji menjadi rukun Islam kelima dan diwajibkan bagi kaum Muslimin yang mampu. Umroh, meski tidak wajib, sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.
  • Perubahan historis dan pembangunan fasilitas Sejarah mencatat berbagai dinasti Islam, seperti Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah, turut melakukan renovasi dan perluasan area Masjidil Haram. Pemerintah Arab Saudi modern pun terus mengembangkan infrastruktur guna menampung jutaan jamaah yang datang setiap tahun, termasuk penambahan kapasitas Masjidil Haram, peningkatan fasilitas transportasi, dan perluasan area Sa’i.

5. Perbedaan Haji dan Umroh

Berikut adalah perbedaan antara Haji dan Umroh, yang akan dibahas hanya secara singkat saja dulu, mungkin nanti akan saya bahas lebih dalam lagi di artikel lain, serta penjelasan lebih lanjut misalkan antara rukun, wajib, sunnah dan lainnya.

  • Waktu pelaksanaan
    • Haji hanya bisa dilaksanakan pada bulan-bulan Haji, yakni Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah (puncaknya pada tanggal 8–13 Dzulhijjah).
    • Umroh dapat dilakukan sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari tertentu yang biasanya bertepatan dengan kesibukan puncak Haji.
  • Tata cara dan rukun
    • Haji memiliki rangkaian ritual yang lebih panjang, termasuk wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina, dan kurban.
    • Umroh terdiri dari ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul.
  • Hukum
    • Haji diwajibkan sekali seumur hidup bagi yang mampu (secara finansial, fisik, dan keamanan).
    • Umroh hukumnya tidak diwajibkan, namun sunnah dan sangat dianjurkan untuk dilakukan setidaknya sekali dalam hidup.

6. Makna dan Hikmah

  • Pengukuhan Tauhid Seluruh rangkaian ibadah ini meneguhkan kembali ketauhidan kepada Allah SWT, melanjutkan warisan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW dalam menentang kemusyrikan.
  • Persamaan derajat Dalam pelaksanaan Haji dan Umroh, semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai simbol kesetaraan di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, atau pangkat.
  • Kesabaran dan Keikhlasan Ibadah ini mengajarkan pentingnya kesabaran, ketangguhan mental, dan keikhlasan, mengingat tidak sedikitnya tantangan fisik dan mental yang dihadapi.

Penutup

Ibadah Haji dan Umroh memiliki sejarah yang sangat panjang, dimulai dari risalah tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim hingga dimurnikan kembali oleh Nabi Muhammad SAW. Ritual-ritual yang dilakukan dalam Haji dan Umroh merupakan jejak perjuangan dan ketaatan para nabi serta pelajaran berharga bagi umat Islam. Saat ini, meskipun sudah mengalami berbagai perkembangan dan modernisasi fasilitas, esensi ibadah Haji dan Umroh tetaplah sama: menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dalam semangat tauhid dan persaudaraan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah Haji dan Umroh, memperkuat iman serta merasakan hikmah yang terkandung di dalamnya. Aamiin.



Related Posts